Minggu, 24 Mei 2015







BUKIT LAWANG

Wisata alam Bukit Lawang menjadi tujuan wisata andalan di Leuser dikarenakan memiliki daya tarik satwa langka Orangutan Sumatra semi liar dan panorama hutan hujan tropis. Bukit Lawang atau lebih dikenal sebagai pusat pengamatan Orangutan Sumatra memiliki luas 200 ha, berada di Desa Perkebunan Bukit Lawang Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara. Dulunya Bukit Lawang merupakan pusat rehabilitasi Orangutan jinak untuk dilepasliarkan kembali ke alam. Sejarah keberadaan Pusat Rehabilitasi Orangutan di Bukit Lawang berawal dari program yang dijalankan oleh WWF dan Frankfurd Zoological Society pada tahun 1973.
Saat itu sebagai perintis yaitu Regina Frey dan Monica Borner melihat bahwa Kondisi dan Situasi 
Bukit Lawang sesuai untuk dijadikan Pusat Rehabilitasi Orangutan. Pada awalnya Pusat Rehabilitasi ini hanya dikunjungi oleh para peneliti maupun konservasionis. Pada perkembangannya kemudian, daerah ini berkembang menjadi Pusat Pengamatan Orangutan Sumatra (Viewing Centre) dan menjadi salah satu obyek wisata andalan di Sumatera Utara yang ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara. Tercatat sejak tahun 1972 hingga 2001, Bukit Lawang merupakan tempat rehabilitasi Orangutan. Dalam kurun waktu ini, 229 Orangutan bekas peliharaan yang disita dari perdagangan satwa sudah direhabilitasi di lokasi ini. Bukit Lawang hingga kini diakui sebagai pintu gerbang terbaik untuk menikmati keindahan Taman Nasional Gunung Leuser yang mempesona. Walaupun bukan lagi sebagai tempat rehabilitasi dan pelepasliaran Orangutan, hutan di sekitar kawasan Bukit Lawang masih menyisakan peluang untuk dilakukannya aktivitas wisata dan pengamatan Orangutan Sumatra dan juga spesies tumbuhan dan satwa lainnya.

Bukit lawang merupakan gerbang utama untuk menikmati keindahan Leuser. Untuk mencapai Bukit Lawang, dapat ditempuh melalui perjalanan darat dari kota Medan (ibukota Propinsi Sumatera Utara) melewati kota Binjai dengan kendaraan umum melalui terminal bus Pinang Baris Medan atau kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam perjalanan dengan jarak sekitar 80 km. Kondisi jalan menuju kawasan Bukit Lawang sangat baik dan telah diaspal. Untuk fasilitas wisata, terdapat
Pondok-pondok wisata bernuansa alami dengan tarif bervariasi antara Rp. 100.000 s/d Rp. 500.000 per malam. Fasilitas wisata lainnya yang tersedia berupa restoran/rumah makan, areal camping ground, viewing centre, information corner, visitor centre, terminal, pintu gerbang kawasan, jalan setapak/trail, papan informasi, feeding site dan sampan penyeberangan menuju kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kawasan ini telah menjadi daerah tujuan wisata hutan hujan tropis yang cukup dikenal di mancanegara.
Pada hari minggu dan hari libur, sangat ramai dikunjungi wisatawan domestik yang datang dari berbagai daerah. Suhu udara rata-rata 21,1ºC – 27,5 ºC. Kelembaban nisbi 80 – 100 %. Musim hujan merata sepanjang tahun tanpa musim kering yang berarti dengan curah hujan rata-rata 2000 – 3200 mm per tahun. Topografi kawasan, landai dan perbukitan dengan kemiringan bervariasi (45 – 90 %). Memiliki tipe ekosistem dataran rendah dan bergelombang.
Di Bukit Lawang dapat dijumpai beberapa jenis tumbuhan dan satwa seperti kantong semar, meranti, keruing, damar laut, anggrek hutan, rafflessia, bunga bangkai, cendawan harimau, anekaragam kupu-kupu, orangutan, siamang, kedih, beruang madu, kambing hutan dan lainnya yang merupakan khas hutan hujan tropis.
Mata pencaharian masyarakat di Bukit Lawang umumnya adalah petani dan pedagang. Budaya di Bukit Lawang heterogen, tidak ada yang dominan antara suku Melayu, Karo, Jawa dan Batak.
Panorama alam yang indah dengan sungai yang jernih serta keberadaan Orangutan Sumatra menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan berupa melihat satwa langka Orangutan Sumatra di feeding site, mengarungi jeram sungai Bohorok dengan ban (tubbing) dan rubber boat, menikmati keindahan air terjun, menjalajah gua, menyegarkan badan dengan mandi di sungai yang jernih, berkemah di areal camping ground, berpetualang dan menyingkap rahasia hutan hujan tropis sumatera, mengamati atraksi satwa, menyaksikan atraksi budaya masyarakat yang beragam dan menikmati kuliner khas lokal.
Di Bukit Lawang banyak tersedia para pemandu wisata lokal berpengalaman, bagi pengunjung yang membutuhkan pemandu selama melakukan petualangan di Taman Nasional Gunung Leuser dapat menghubungi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bukit Lawang. HPI dan juga pondok-pondok penginapan di Bukit Lawang menyediakan pilihan paket-paket wisata yang menarik dengan harga terjangkau.
























TANGKAHAN



Keberadaan Gajah patroli, Orangutan Sumatra liar dan panorama hutan hujan tropis yang indah di Tangkahan menjadikan daerah ini sebagai tujuan wisata yang digemari oleh para wisatawan, memiliki luas area ± 17.000 ha yang berada di Desa Namo Sialang Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara. Secara geografis berada pada 03º05’30” LU dan 098º04’26.8” BT. Tangkahan karena keindahannya terkenal sebagai surga tersembunyi di Leuser.

Antara tahun 1980 hingga tahun 1990-an, masyarakat di sekitar Tangkahan dulunya giat membalak kayu hutan yang berasal dari Taman Nasional Gunung Leuser. Namun seiring dengan waktu, masyarakat kemudian sadar akan kerusakan dan kesalahan yang telah mereka lakukan sehingga atas kesepakatan bersama masyarakat di Tangkahan kemudian memutuskan untuk menghentikan pembalakan kayu illegal dari Taman Nasional Gunung Leuser dan mengembangkan kawasan Tangkahan daerah ekowisata. Pada tahun 2001, masyarakat Tangkahan berkumpul dan menyepakati peraturan desa (perdes) yang melarang segala aktifitas yang mengeksploitasi hutan secara illegal dan mendirikan Lembaga 

Pariwisata Tangkahan (LPT).
Sungai Batang di Tangkahan
Pada bulan April 2002, LPT membuat nota kesepahaman (MoU) dengan pihak pengelola Taman Nasional Gunung Leuser untuk mengelola Tangkahan sebagai tujuan wisata. LPT juga mendirikan Community Tour Operator (CTO) yang berfungsi memfasilitasi penyediaan akomodasi, interpreter bagi pengunjung dan paket-paket wisata yang menarik. Selain untuk trekking di hutan Taman Nasional Gunung Leuser yang mempesona, Tangkahan juga merupakan tempat kegiatan Conservation Response Unit (CRU) yang terdiri dari beberapa gajah bekas peliharaan (ex-captive) dan sekelompok mahout (pelatih gajah) yang secara teratur berpatroli untuk melindungi kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dari aktifitas perambahan kawasan. Pengunjung juga dapat ikut dalam trekking gajah selama 1 – 2 jam bersama-sama dengan mahout berpetualang dan menelusuri hutan, atau menikmati trekking menunggangi gajah selama 4 hari 3 malam dari Tangkahan ke Bukit Lawang.
Elephant Trekking di Tangkahan
Untuk mencapai lokasi tangkahan dapat ditempuh dari Medan selama 3 jam dengan jarak berkisar 124 km melewati kota Binjai dan Tanjung Pura dengan kondisi jalan sangat baik/telah diaspal. Jalur lain adalah melalui jalur jalan memotong Stabat – Simpang Sidodadi dengan jarak sekitar 95 km dengan waktu tempuh 2 jam perjalanan. Jalur ini sebagian jalannya dalam kondisi rusak (13 km) belum beraspal terutama di kawasan perkebunan. Setiap hari terdapat angkutan umum regular untuk rute Medan – Tangkahan dari terminal Pinag Baris Medan. Lokasi pemberhentian bus berada di simpang Robert di Dusun Titi Mangga. Perjalanan ke lokasi Tangkahan dari simpang ini dilanjutkan dengan mengendarai ojek/sepeda motor. Jalan dari simpang ini ke Tangkahan merupakan jalan perkebunan dengan kondisi jalan belum beraspal dan masih berupa jalan batu/kerikil.
Terdapat rakit penyeberangan di Sungai Batang Serangan yang menghubungkan ke sarana penginapan Bamboo River Lodge memiliki 6 kamar double dilengkapi dengan kamar mandi dengan tarif Rp. 75.000 s/d 100.000 per malam dan Alex’s House yang memiliki 8 kamar dengan tarif Rp.125.000 s/d Rp. 150.000 per malam, hotel green load 6 kmr Rp.125.000 s/d 150.000 per malam dan homestay dengan tarif Rp. 15.000 s/d 30.000 per malam. Di masing-masing penginapan terdapat pendopo yang berfungsi juga sebagai ruang pertemuan dan restoran. Fasilitas lainnya yang tersedia adalah Visitor Centre, papan interpretasi, jalan trail, camping ground dan warung makan tradisional milik masyarakat setempat. Pada hari libur banyak dikunjungi wisatawan nusantara/lokal untuk berekreasi mandi di sungai Batang Serangan dan Sungai Buluh.
Kawasan wisata Tangkahan juga sudah dikenal dan banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara yang biasanya sering dibawa oleh pemandu lokal dari Bukit Lawang.


Kawasan ini memiliki tipe ekosistem dataran rendah dan dataran tinggi dengan kondisi hutan yang masih terjaga kemurniannya. Flora fauna yang terdapat pada kawasan ini berupa kantong semar, rafflessia, Amorphophalus sp, damar, meranti, mayang, sedangkan fauna yang terdapat dikawasan ini berupa gajah, orangutan, kera ekor panjang, harimau, kambing hutan, babi hutan, burung kuau serta lainnya.
Kawasan ini merupakan tempat pertemuan sungai Buluh dan sungai Batang Serangan. Kondisi air cukup jernih namun pada saat hujan permukaan air sungai akan naik dan air berubah keruh untuk selanjutnya berangsur-angsur jernih kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Sebagian besar penduduknya hidup dari sektor pertanian dan perkebunan. Anak-anak mudanya banyak yang bekerja sebagai guide/pemandu di lokasi wisata ini. Mayoritas suku Karo dan sebagian lagi adalah suku Jawa serta Melayu.
Potensi wisata berupa pemandian air panas, gua kalong, gua kambing, air terjun dan jalur trekking dengan berjalan kaki ataupun dengan menaiki Gajah Sumatera. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan berupa berpetualang dan menyingkap rahasia hutan hujan tropis Sumatra dengan trekking atau menunggangi Gajah Sumatra dengan rute pendek dan rute panjang sampai ke Bukit Lawang, ikut memandikan Gajah Sumatra, mengarungi jeram sungai dengan menggunakan ban (tubbing) atau rubber boat, berkemah di areal camping ground, menyelusuri gua alam, menyegarkan badan dengan mandi di sungai yang jernih, mengamati atraksi satwa, menyaksikan atraksi budaya lokal dan menikmati kuliner khas lokal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar